Di Hadapan 600 Rektor, Menko PMK Ajak Kampus Ikut Bantu Pemerintah Hadapi Ancaman Krisis

Di Hadapan 600 Rektor, Menko PMK Ajak Kampus Ikut Bantu Pemerintah Hadapi Ancaman Krisis

JAKARTA, JITUNEWS.COM– Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan bahwa Indonesia saat ini tengah menghadapi ancaman krisis global, seperti masalah perubahan iklim akibat pemanasan global, krisis pangan, krisis energi, dan krisis keuangan.

Selain ancaman krisis global, Muhadjir menyampaikan, ada beberapa krisis pembangunan manusia yang harus dituntaskan bangsa Indonesia, yaitu masalah ketenagakerjaan, relevansi pendidikan, stunting, dan kemiskinan ekstrem.

Hal itu, ia sampaikan saat menjadi pembicara kunci sekaligus membuka kegiatan Konvensi Kampus ke-28 dan Temu Tahunan Ke-24 Forum Rektor Indonesia 2022, di Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur, pada Sabtu (29/10/2022).

Dalam pidatonya di hadapan sekitar 500 rektor yang hadir langsung dan sekitar 100 rektor luring dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia, Menko PMK meminta agar kampus khususnya para rektor turut serta membantu pemerintah dalam mengkaji dan memberikan saran dan masukkan kebijakan terhadap masalah-masalah tersebut.

“Tidak mungkin pemerintah lakukan sendirian tanpa dukungan dari semua pihak khususnya para rektor yang hadir di sini. Karena itu saya secara khusus datang ke sini untuk bersilaturahmi dan memastikan kebijakan telah ditangani dan tersambungkan dengan para rektor,” ungkap Muhadjir.

Menko Muhadjir menyampaikan amanat terkait masalah krisis pembangunan manusia untuk para rektor. Pertama soal ketenagakerjaan dan relevansi pendidikan dengan dunia kerja, Muhadjir meminta supaya kampus berperan dalam merespons Perpres Nomor 68 Tahun 2022 tentang Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi.

“Di mana para rektor yang paling bertanggung jawab untuk memastikan bahwa perpres dapat terlaksana dan berhasil,” ungkapnya.

Selanjutnya, terkait masalah stunting, Menko Muhadjir juga menegaskan bahwa Presiden pada tahun 2024 menargetkan stunting turun menjadi 14 persen. Karenanya, dia meminta kampus turut berperan serta dalam mengentaskan stunting melalui jalur pendidikan, riset, atau program pengabdian kampus kepada masyarakat.

Kemudian, terkait Kemiskinan ekstrem, Menko PMK juga meminta peranan kampus untuk membantu pemerintah mengintervensi pemberdayaan masyarakat supaya target kemiskinan ekstrem 0 persen pada tahun 2030 dapat terpenuhi. Dia mengatakan, kampus dapat berperan dalam menguatkan instrumen kebijakan dan intervensi langsung pada masyarakat.

“Jadi harus kerja keras dalam waktu singkat ini agar perintah Bapak Presiden bisa terpenuhi,” ucapnya.

Kemudian, terkait ancaman krisis global, Muhadjir juga meminta agar para rektor dan kampus bisa berkontribusi dalam pemikiran dan juga program pengabdian masyarakat. Terutama, menurut Muhadjir, krisis global yang harus diwanti-wanti adalah krisis pangan, krisis energi, dan krisis keuangan.

Muhadjir menjelaskan bahwa adanya perang antara Rusia dan Ukraina sangat berpengaruh besar pada kondisi global, utamanya ancaman krisis pangan dan energi.

Dia menjelaskan, Indonesia termasuk beruntung karena adanya perang saudara itu tidak terlalu memengaruhi kondisi stabilitas nasional. Namun, dia tetap meminta agar kampus menyiapkan ide dan gagasan untuk menghadapi skenario terburuk.

Misalnya saja dalam menghadapi krisis pangan, kampus harus memberikan ide-ide supaya ketahanan pangan tetap terjaga.

Menurut Muhadjir, saat ini Indonesia masih bergantung pada bahan pangan beras. Karenanya dia meminta agar kampus memiliki ide dengan pendekatan ekosistem untuk memanfaatkan diversifikasi pangan dan kekhasan pangan yang ada di tiap daerah.

“Sudah waktunya kampus memelopori menggali kembali me-restart kembali bahan pangan yang kita abaikan sebelum kita terpuruk ke dalam krisis pangan seperti yang dialami negara-negara yang berada di tebing kemuramannya,” ucapnya.

Usai membuka kegiatan, Menko PMK didampingi oleh Ketua Forum Rektor Indonesia Tahun 2021-2022 Panut Mulyono, dan Ketua Penyelenggara Kegiatan FRI 2022 sekaligus Rektor Universitas Airlangga Mohammad Nasih dan perwakilan rektor menanam pohon sebagai wujud dari gerakan penanaman 10 juta pohon sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental. FRI berkomitmen kontribusi 2 juta pohon.

Artikel ini bersumber dari www.jitunews.com.