Digertak Barat, Filipina Batal Beli 16 Helikopter Mi-17 dari Rusia

Digertak Barat, Filipina Batal Beli 16 Helikopter Mi-17 dari Rusia

Laporan Wartawan Tribunnews.com  Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEW.COM, MANILA –  Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr. mengkonfirmasi bahwa militer negaranya telah resmi membatalkan kesepakatan pembelian 16 helikopter angkut berat jenis Mi-17 dari Rusia.

Pembatalan kontrak pembelian helikopter MI-17 senilai 215 juta dolar AS atau setara dengan Rp 3,3 triliun (satuan kurs Rp 15.537) dilakukan Filipina karena khawatir akan adanya sanksi Barat salah satunya pembekuan transfer bank.

Pemerintah Filipina risau negaranya akan mendapatkan sanksi pembatasan yang dapat memperlambat transfer bank pendapatan dari migran Filipina yang berada di Washington dan negara Barat lainnya, apabila nekat melangsungkan pembelian peralatan pertahanan dari Rusia di tengah memanasnya invasi Moskow Kiev.

“Saya pikir sudah ditentukan oleh pemerintahan sebelumnya bahwa kesepakatan itu tidak akan dilaksanakan, tidak akan berlanjut,” kata Marcos Jr, ketika diminta untuk mengomentari panggilan oleh duta besar Rusia.

Filipina sendiri belum memberitahu Rusia tentang keputusannya membatalkan kontrak pembelian helikopter Mi-17.

Namun melansir dari AFP rencana pembatalan kontrak sebenarnya sudah lama di gagas oleh Departemen Pertahanan Nasional Filipina tepatnya sejak Agustus lalu, setelah Filipina melakukan pembayaran awal.

“Saya pikir sangat bijaksana khususnya bagi Presiden Duterte untuk menyetujui pembatalan kontrak itu karena dapat menyelamatkan kita dari banyak masalah,” kata Romualdez kepada koresponden asing yang berbasis di Manila pada bulan Agustus.

Baca juga: Batal Beli Helikopter Mi-17 dari Rusia, Filipina Pilih Heli Chinook Bikinan AS

Filipina menandatangani kesepakatan pembelian helikopter Rusia pada November tahun lalu, guna mempercepat proses modernisasi perangkat keras militernya yang sudah ketinggalan jauh dengan negara Asia Tenggara lainnya.

Dalam kesepakatan tersebut, pengiriman helikopter Mi-17 batch pertama dijadwalkan oleh perusahaan senjata Sovtechnoexport Rusia dalam waktu sekitar dua tahun.

Dicap sebagai helikopter serbaguna, Mi-17 yang masuk dalam kategori helikopter kelas menengah yang dirancang Rusia untuk dapat membawa 10 persenjataan berat seperti kontainer bom tabur anti personel PFM-1 Butterfly, serta empat rudal anti tank beragam jenis dengan pemandu laser.

Baca juga: KSAD Soroti Aspek Pengelolaan SDM Terkait Insiden Jatuhnya Helikopter MI-17 di Kendal

Helikopter Mi-17 juga dapat mengangkut empat peluncur roket multi kaliber, dua bom penghancur beton FAB-250GP, ranjau laut, perangkat pengecoh rudal (chaff), torpedo jenis MK46, dan perangkat pengacau sinyal elektronik ICRM selama di medan perang.

Kehandalan Mi-17 kian kentara lantaran mampu mendarat di berbagai landasan darurat, seperti tanah lunak, padang salju, hingga di kawasan perairan hanya dengan mengandalkan bantuan kaki pelampung.

Dengan kehebatan tersebut bahkan membuat Mi-17 dipercaya sebagai heli andalan misi PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) dalam menjalankan tugas di kawasan konflik dan rawan bencana.

Selain 16 helikopter MI-17, Rusia dikabarkan turut memberikan satu united helikopter secara gratis ke Filipina untuk digunakan selama pertempuran, operasi pencarian dan penyelamatan, serta evakuasi medis.

Usai pembatalan kontrak dengan Rusia, Filipina saat ini tengah mempertimbangkan kerjasama dengan Washington untuk pembelian Boeing CH-47 Chinook.

Pemerintah Filipina belum memutuskan untuk menandatangani  pembelian helikopter ini, namun guna menarik perhatian Filipina pemerintah AS dilaporkan akan memasukkan beberapa layanan tambahan seperti pemeliharaan dan suku cadang, hingga persyaratan yang tidak termasuk dalam kesepakatan dengan Rusia.


Artikel ini bersumber dari www.tribunnews.com.

error: Content is protected !!