Gas Air Mata Aparat Tewaskan 135 Orang

Gas Air Mata Aparat Tewaskan 135 Orang

Jakarta, CNN Indonesia

Tembakan gas air mata dari aparat telah menyebabkan ratusan suporter bola kehilangan nyawa di Stadion Kanjuruhan Malang pada 1 Oktober 2022, tepat sebulan silam. 

Semua menyebut peristiwa itu sebagai Tragedi Kanjuruhan Malang.

Setidaknya sudah 135 korban Tragedi Kanjuruhan dinyatakan tewas. Masih ada sejumlah orang dirawat intensif di rumah sakit. Belum lagi, para korban yang mengalami luka dan membekas hingga kini.

Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) yang dibentuk oleh Presiden Joko Widodo telah menerbitkan laporan. Namun itu seperti tak berarti. Kasus yang menyebabkan ratusan nyawa melayang itu hingga kini seperti mandek jalan di tempat.




Presiden Joko Widodo meninjau salah satu pintu keluar tribun yang menjadi tempat banyak jatuh korban dalam tragedi Kanjuruhan di Stadion Kanjuruhan, Malang.(Arsip Biro Pers Sekretariat Presiden)Presiden Joko Widodo meninjau salah satu pintu keluar tribun yang menjadi tempat banyak jatuh korban dalam tragedi Kanjuruhan di Stadion Kanjuruhan, Malang.(Arsip Biro Pers Sekretariat Presiden)

Malam Tragedi Kanjuruhan

Tragedi Kanjuruhan terjadi usai pertandingan lanjutan BRI Liga 1 antara Arema FC vs Persebaya Surabaya. Laga yang dikenal sebagai derby Jatim itu berakhir dengan kemenangan tim tamu, Sabtu (1/10) malam.

Sejumlah suporter kemudian ada yang turun ke lapangan ketika tim dan ofisial Arema FC menghampiri tribun untuk meminta maaf kepada para pendukungnya karena kekalahan tersebut.

Komnas HAM menyebut peristiwa dimulai sekitar pukul 22.08.59 WIB atau kira-kira 20 menit setelah peluit pertandingan selesai dibunyikan.

Pada menit itulah gas air mata pertama ditembakkan aparat untuk menghalau suporter di lapangan. Namun, bukan hanya di lapangan, dari rekaman yang beredar terlihat pula gas air mata itu ditembakkan ke arah tribun penonton.

Para suporter di tribun panik, mereka berhamburan berdesak-desakan ke arah pintu keluar yang terbatas sambil menahan rasa perih di mata. 

Aparat –termasuk Kapolda Jatim kala itu Irjen Pol Nico Afinta– mengklaim gas air mata itu ditembakkan untuk mengamankan situasi atas kericuhan suporter yang turun ke lapangan. Nico, Minggu (2/10), bahkan mengklaim penembakan gas air mata oleh aparat sudah sesuai prosedur.

Namun, klaim itu terbantahkan baik dari temuan Komnas HAM maupun TGIPF yang laporannya telah diserahkan ke Jokowi.

Berdasarkan temuan Komnas HAM, suporter turun ke lapangan untuk memberi semangat kepada para pemain klub sepakbola yang kalah.

Terlebih, aparat tak hanya menembak pada satu titik, mereka juga menembak ke berbagai arah, termasuk tribun. Ada 11 tembakan gas air mata yang dilepaskan.

Satu per satu gas air mata ditembakkan, membuat stadion mengepul. Semakin banyak pula suporter yang panik.

Mereka berlarian ke arah pintu, berharap bisa menghindari gas air mata dan menyelamatkan diri. Namun, keluar dari stadion saat itu tak mudah.

Jumlah penonton pertandingan pada malam itu melampaui kapasitas seharusnya. Komnas HAM mencatat ada sekitar 43 ribu tiket yang terjual. Padahal, kapasitas Stadion Kanjuruhan maksimal menampung 38 ribu orang.

Ditambah, pintu stadion yang terbuka ukurannya kecil. Ada dua helai pintu kecil yang terbuka. Masing masing mempunyai ukuran dimensi 75 cm dan tinggi 180 cm.

Puluhan ribu suporter pun harus melewati tangga yang curam dan berhimpitan untuk bisa lolos keluar dari pintu.

Banyak suporter yang sesak nafas akibat kondisi tersebut. Ruang gerak sempit, sementara efek gas air mata masih terasa.

Lebih jauh, sejumlah suporter pingsan. Bahkan, ratusan orang akhirnya meninggal dunia.

Komnas HAM mencatat ada enam pintu yang menjadi titik paling banyak ditemukannya korban berjatuhan, yakni pintu 3, 9, 10, 11, 12 dan 13.




Indonesian police conduct a reconstruction of events as part of investigations into the October 1 Kanjuruhan football stadium disaster in Malang which killed 133 people, at the police headquarters in Surabaya on October 19, 2022. (Photo by JUNI KRISWANTO / AFP)Rekonstruksi Tragedi Kanjuruhan Malang yang dilakukan di lapangan Mapolda Jatim, Surabaya, tak menunjukkan adegan aksi penembakan gas air mata ke tribun, 19 Oktober 2022. (AFP/JUNI KRISWANTO)

Proses Investigasi, Penyelidikan, dan Penyidikan

Tragedi Kanjuruhan tidak hanya geger di Indonesia saja, tapi menjadi sorotan di mata dunia. Tragedi Kanjuruhan Malang sejauh ini menjadi ‘tiga besar bencana sepak bola’, setelah mimpi buruk yang terjadi di Lima, Peru pada 1964 silam dan Ghana pada 2001 lalu.

Mahfud MD mengumpulkan para pemimpin lembaga terkait di kantornya pada Senin (3/10) untuk melanjutkan arahan Jokowi atas Tragedi Kanjuruhan. Kala itu yang terlihat ikut rapat di sana adalah Mendagri Jenderal Pol (Purn.) Tito Karnavian), Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa, Wakapolri Komjen Pol Gatot Eddy Pramono, dan Deputi V Kantor Staf Presiden Jaleswari Pramowardhani.

Mahfud pun mengumumkan TGIPF dengan anggota lintas sektor. TGIPF itu kemudian dipatenkan lewat Keppres 19/2022 yang diteken Jokowi pada 4 Oktober 2022.

Tim itu pun telah menyelesaikan tugasnya, dan menyerahkan laporan setebal 124 halaman ke Jokowi pada 14 Oktober 2022.

Salah satu temuannya, TGIPF meyakini bahwa penyebab ratusan orang berjatuhan adalah gas air mata yang ditembakkan aparat di dalam stadion.

Selain itu, TGIPF juga menyoroti peran PSSI, sebagai sebagai federasi sepakbola profesional di Indonesia. Menurut TGIPF, PSSI tidak melakukan sosialisasi/ pelatihan yang memadai tentang regulasi FIFA dan PSSI kepada penyelenggara pertandingan, baik kepada panitia pelaksana, aparat keamanan dan suporter.

Selain itu, PSSI juga tidak mempertimbangkan faktor risiko saat menyusun jadwal kolektif penyelenggaraan Liga-1.

Adapun beberapa rekomendasinya adalah Ketua Umum PSSI dan seluruh jajaran Komite Eksekutif harus mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggungjawaban moral.

Selain itu, TGIPF merekomendasikan agar proses hukum pidana bagi pihak pihak yang terbukti bersalah dan menyebabkan ratusan korban berjatuhan terus dilakukan sampai tuntas.




Infografis Kengerian Pintu 13 Tragedi Stadion Kanjuruhan

Namun, tak semua rekomendasi TGIPF itu dilaksanakan sejauh ini. Padahal, TGIPF dibentuk langsung oleh presiden dengan landasan yang jelas, yakni Keppres Nomor 19 Tahun 2022.

Pakar Hukum Tata Negara dari Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera Bivitri Susanti menilai setelah keluarnya rekomendasi dari TGIPF, seharusnya semua pihak terkait menerima dan menjalankannya.

“Itu (rekomendasi) sebenarnya bersifat memaksa, perintah presiden sebagai kepala negara kepada aparaturnya,” kata Bivitri kepada CNNIndonesia.com, Selasa (19/10).

Sementara itu, investigasi Komnas HAM masih berlanjut. Lembaga itu tengah menyandingkan hasil laboratorium dari sisa gas air mata yang ditemukan pada pakaian korban.

Komnas HAM juga tengah meminta keterangan dari FIFA. Selain itu, mereka juga mempertimbangkan untuk membawa tragedi ini langsung ke Dewan HAM PBB di Jenewa.

Di kepolisian, terkait Tragedi Kanjuruhan, Polda Jatim telah menetapkan enam tersangka–tiga dari sipil, dan tiga dari polisi.

Para tersangka itu adalah: Dirut PT LIB Ahmad Hadian Lukita, Ketua Panpel Arema Abdul Haris, dan Security Officer Arema Suko Sutrisno. Kemudian tersangka dari kepolisian adalah Kompol Wahyu Setyo Pranoto selaku Kabag Ops Polres Malang, AKP Bambang Sidik Achmadi , dan Danki Brimob Polda Jatim AKP Hasdarman.

Dalam perkara ini, keenam tersangka dijerat dengan Pasal 359 dan Pasal 360 KUHP tentang Kelalaian. Selain itu mereka juga dijerat Pasal 103 Juncto Pasal 52 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan.

Berlanjut ke halaman selanjutnya…



Siapa yang Bertanggung Jawab atas Tragedi Kanjuruhan

BACA HALAMAN BERIKUTNYA


Artikel ini bersumber dari www.cnnindonesia.com.