News  

IHSG akhir pekan diproyeksikan datar, fokus pasar tertuju pada PDB AS

IHSG akhir pekan diproyeksikan datar, fokus pasar tertuju pada PDB AS

Fokus investor tertuju pada rilisnya data pertumbuhan AS di kuartal tiga ini, dimana ekonomi AS tumbuh 2,6 persen di atas ekspektasi pelaku pasar yang sebesar 2,4 persen, setelah sempat sempat terkontraksi 2 kuartal beruntun

Jakarta (ANTARA) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat diproyeksikan bergerak datar, menyusul rilis data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS).

IHSG dibuka melemah tipis 0,2 poin ke posisi 7.091,56. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 0,29 poin atau 0,03 persen ke posisi 1.012,49.

“Fokus investor tertuju pada rilisnya data pertumbuhan AS di kuartal tiga ini, dimana ekonomi AS tumbuh 2,6 persen di atas ekspektasi pelaku pasar yang sebesar 2,4 persen, setelah sempat sempat terkontraksi 2 kuartal beruntun,” tulis Tim Riset Lotus Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.

Kendati demikian naiknya pertumbuhan ekonomi AS di atas ekspektasi dinilai sebenarnya tidak disambut baik juga oleh pelaku pasar, karena akan memberi kesempatan bagi bank sentral AS, Federal Reserve (Fed) untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya.

Baca juga: Rupiah akhir pekan menguat tipis, ditopang data positif PDB Amerika

Namun ada harapan dari pelaku pasar agar The Fed menurunkan agresivitasnya dalam menaikkan suku bunga, jika melihat Bank Sentral Kanada (Bank of Canada/BoC) yang kembali menaikkan suku bunga sebesar 50 bps menjadi 3,75 persen, akan tetapi lebih rendah dari ekspektasi pasar yang sebesar 75 bps. BoC menjadi bank sentral yang juga agresif dalam menaikkan suku bunga.

Dari domestik, pekan depan akan rilis data Inflasi Indonesia untuk periode Oktober, di mana BI memproyeksikan inflasi masih berpotensi menguat hingga akhir tahun.

Pada hari ini IHSG berpeluang bergerak datar atau sideways di kisaran 7.024-7.118.

Bursa ekuitas AS ditutup bervariasi pada Kamis (27/10), setelah rilis data PDB AS kuartal ketiga yang tumbuh lebih cepat dari ekspektasi, dan mengisyaratkan memudarnya inflasi.

Berdasarkan data yang dirilis Kamis (27/10), ekonomi AS tumbuh 2,6 persen pada kuartal ketiga ini, setelah sebelumnya sempat terkontraksi dua kuartal beruntun. Angka tersebut juga di atas ekspektasi konsensus yang sebesar 2,4 persen, dan tumbuh dari kuartal sebelumnya yang terkontraksi 0,6 persen.

Baca juga: Lembaga Riset PIIE proyeksikan AS masuki resesi ringan pada 2023

Ekonomi AS tumbuh karena menyempitnya defisit perdagangan. Selain itu peningkatan PDB juga berasal dari peningkatan belanja konsumen, investasi tetap non-perumahan, dan belanja pemerintah.

Menurut Kepala Ekonom Amerika Utara Paul Ashworth, ekonomi AS akan memasuki resesi ringan pada paruh pertama tahun depan.

Selanjutnya juga telah rilis data klaim pengangguran awal AS yang lebih baik dari ekspektasi, sebesar 217.000 (konsensus 220.000).

Dari Eropa, bursa ekuitas Eropa ditutup menguat, setelah Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 bps, hal tersebut sesuai dengan ekspektasi para pelaku pasar. Pembuat kebijakan mengisyaratkan laju kenaikan suku bunga yang lebih lambat ke depan.

Bursa saham regional Asia pagi ini antara lain Indeks Nikkei melemah 94,17 atau 0,34 persen ke 27.251,07, Indeks Hang Seng turun 45,21 atau 0,29 persen ke 15.382,73, Indeks Shanghai terkoreksi 20,9 poin atau 0,7 persen ke 2.962, dan Indeks Straits Times menguat 37,22 poin atau 1,23 persen ke 3.052,46.

Baca juga: Saham Asia akhir pekan dibuka melemah, yen stabil jelang keputusan BoJ

 

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Artikel ini bersumber dari www.antaranews.com.