Jelang Pemilihan Paruh Waktu di Amerika Serikat

Jelang Pemilihan Paruh Waktu di Amerika Serikat

Musim kampanye politik sedang ramai berlangsung di AS, dan masing-masing partai utama, Republik dan Demokrat, gencar berusaha menarik pemilih untuk memberi dukungan.

Dalam pemilihan paruh waktu ada tradisi di mana biasanya partai yang menguasai Gedung Putih, jadi kali ini Partai Demokrat, akan mengalami kekalahan. Hal ini juga diantisipasi oleh Lindsey Cormack, profesor ilmu politik dan pakar studi kongres dan pemilihan di Stevens Institute of Technology di Hoboken, New Jersey.

Untuk Partai Republik, beberapa isu mengemuka dan menyemangati mereka untuk berbondong-bondong pergi ke TPS. “Isu yang secara mudah menjadi sasaran kritik adalah apa yang dipersepsikan sebagai kegagalan pemerintahan Biden, jadi hal-hal seperti inflasi yang memperlambat ekonomi, perasaan pemilih ketika mengisi kendaraan dengan BBM yang harganya mahal, ada keprihatinan dengan penerobosan illegal di perbatasan, kejahatan yang oleh pihak kanan dirasakan signifikan; itu adalah hal-hal yang mencerminkan prioritas partai Republik dan tertuang dalam manifesto Commitment to America, dan itulah isu-isu yang mereka kampanyekan,” jelas Cormack.

Kemudian Partai Demokrat juga memiliki seperangkat isu yang mereka harapkan akan membuat pemilih tertarik.

“Sebagian besar tentang perlindungan hak perempuan untuk memilih layanan kesehatan reproduktif bagi dirinya sendiri, hal-hal terkait dengan UU pengurangan inflasi yang akan mengubah kehidupan warga Amerika secara bermakna, menurunkan harga insulin, dan mereka telah meloloskan paket infrastruktur besar-besaran tahun lalu, dan mereka berargumen ini akan menempatkan ekonomi Amerika pada posisi berbeda dari yang sekarang,” lanjutnya.

Meskipun isu ekonomi seperti inflasi tidak bisa sepenuhnya dibebankan pada pemerintahan Biden mengingat ini merupakan sebuah fenomena global, namun Cormack berpendapat, penyampaian pesannya yang bermasalah.

Lindsey Cormack.

“Pesan yang terus menerus didengar pemilih adalah serangkaian kebijakan yang membuat situasinya lebih buruk dari yang seharusnya. Jadi meskipun kita tidak bisa menyalahkan Joe Biden untuk setiap ketimpangan ekonomi, argumen bahwa dia tidak cukup berusaha atau dia mengalirkan terlalu banyak uang ke dalam ekonomi, hal seperti itu bisa dituduhkan pada dirinya dan Partai Republik canggih ketika memainkan pesan-pesan seperti itu berulang kali dan ke seluruh AS,” imbuh Cormack.

Untuk memperoleh pandangan langsung dari lapangan, VOA menghubungi Marjono Reksopuro, seorang anggota diaspora Indonesia yang bermukim di Portland, Oregon. Tadinya dia merasa optimis dengan prospek Partai Demokrat, karena Mahkamah Agung yang mengakhiri hak aborsi untuk perempuan membangkitkan amarah kelompok perempuan, namun dia menilai kenaikan harga BBM telah membuat harapan itu pupus.

Jelang Pemilihan Paruh Waktu di Amerika Serikat

Marjono Reksodipuro.

“Kita saksikan selama beberapa bulan posisi ini bertahan dan pada saat sama harga minyak turun, jadi itu berita baik, tetapi tiba-tiba dalam dua minggu terakhir ini harga minyak naik lagi khususnya karena Arab Saudi memutuskan utnuk mengurangi produksi lewat OPEC, meskipun Biden minta Saudi agar meningkatkan produksi. Ketika hal itu terjadi pukulannya begitu keras dan mengenyampingkan isu hak reproduksi perempuan, jadi saat ini sentimennya lebih memihak Republik ketimbang Demokrat,” jelas Marjono.

Meskipun demikian Marjono bertekad untuk tetap memilih, dan berharap bahwa terutama kelompok generasi muda tidak akan melewatkan peluang untuk menentukan arah politik di AS ini.

“Saya benar-benar berharap, dan porsi dari populasi yang benar-benar saya harapkan dan saya doakan adalah warga muda. Dan saya tahu bahwa generasi mudah faham bahwa kita berada di tepi jurang bencana perubahan iklim, dan kita berada momen dimana kita tidak bisa membalikkan lagi bencana ini,” imbuhnya.

Sementara itu, meskipun tanggal resmi pemilihan paruh waktu adalah 8 November, tetapi banyak negara bagian memberi kesempatan kepada warganya untuk melakukan mail-in balloting atau memilih lewat pos. Menurut laporan CNN, 5,8 juta surat suara lewat pos sudah diterima di 39 negara bagian, biasanya penyertaan lewat pos yang sedemikian besarnya menguntungkan Partai Demokrat. [jm/em]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.