Jelang Pemilu Paruh Waktu, Ekonomi AS Tak Jelas akibat Inflasi

Jelang Pemilu Paruh Waktu, Ekonomi AS Tak Jelas akibat Inflasi

Poster-poster lowongan pekerjaan atau kebutuhan tenaga baru ada di mana-mana di Amerika. Para pengusaha memposting hampir dua lowongan pekerjaan untuk setiap orang Amerika yang menganggur. Perekrutan kini berada di jalur menuju tahun terkuat kedua dalam catatan pemerintah sejak tahun 1940. Sementara ekonomi tumbuh pesat selama musim panas.

Dari sudut tertentu, gambaran ekonomi Amerika terlihat sehat.

Namun, pemandangan itu dibuat kabur oleh faktor yang mengganggu, yakni inflasi yang sangat tinggi. Lonjakan harga membebani anggaran keluarga dan menimbulkan kesulitan pada rumah tangga, terutama mereka yang paling tidak beruntung dari segi ekonomi. Terlebih lagi, dorongan bank sentral Federal Reserve atau Fed untuk menjinakkan inflasi melalui suku bunga yang jauh lebih tinggi meningkatkan risiko resesi pada tahun depan.

Dengan pemilihan paruh waktu untuk memilih anggota Kongres (seluruh anggota DPR dan sepertiga anggota Senat) minggu depan, banyak orang Amerika merasa prospek ekonomi dan keuangan mereka suram. Perasaan demikian hendak dimanfaatkan oleh Partai Republik yang berharap untuk merebut kembali kendali Kongres. Namun sentimen itu merupakan berita tidak menyenangkan bagi Partai Demokrat pimpinan Presiden Joe Biden yang kini mengendalikan Kongres.

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan pada awal Oktober oleh The Associated Press-NORC Center for Public Affairs Research menemukan bahwa 46% warga Amerika merasa situasi keuangan pribadi mereka buruk, naik dari 37% yang mengatakan demikian pada bulan Maret.

Ekonomi Amerika berada pada posisi yang membingungkan, dua tahun setelah COVID-19 mengubah bisnis dari sebelum pandemi. Resesi singkat namun dalam yang terjadi pada musim semi 2020 dengan cepat diikuti oleh pemulihan mendadak yang menyulitkan rantai pasokan global, menyebabkan kekurangan barang dan tenaga kerja serta memicu tekanan harga yang hingga kini belum juga surut. Sebagai akibatnya, kini terjadi perpaduan yang tidak biasa dari inflasi yang menghancurkan dan bursa tenaga kerja yang kuat.

Ekonom Megan Greene dari Kroll Institute mengatakan, “Data itu ada di mana-mana.”

Banyak pekerja telah menerima kenaikan gaji yang layak dari majikan yang berupaya keras untuk mempertahankan dan menarik staf. Tetapi, harga barang yang lebih tinggi menghapus kenaikan gaji tersebut. Jika disesuaikan dengan inflasi, gaji per jam turun 3% pada bulan September lalu dari tahun sebelumnya, dan ini merupakan penurunan bulanan ke-18 berturut-turut.

“Kenaikan upah tidak sejalan,”’ kata Greene. “Sangat bagus bahwa orang memiliki pekerjaan, tapi standar hidup mereka dipangkas oleh inflasi.” [lt/jm]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.