Mantan PM Pakistan Siap Mulai “Revolusi Lunak”

Mantan PM Pakistan Siap Mulai “Revolusi Lunak”

Mantan Perdana Menteri Pakistan yang populis, Imran Khan, mengatakan demonstrasi yang dijadwalkan akan dilangsungkan di Ibu Kota Islamabad mulai Jumat nanti (28/10) akan memicu “revolusi lunak” di negara itu lewat kotak suara. Ia juga memperingatkan potensi terjadinya kekacauan jika pihak berwenang berupaya memblokir aksi itu.

“Revolusi lunak” adalah revolusi lewat cara-cara damai, bukan kekerasan, misalnya lewat perubahan sosial, kebudayaan, seni dan lain-lain.

Khan menyampaikan hal itu pada Selasa (25/10) dalam debat virtual yang dilangsungkan oleh Oxford Union Inggris.

Khan mengatakan demonstrasi yang sudah direncanakan sejak lama itu akan dimulai di Kota Lahore, yang akan menarik warga dari seluruh Pakistan untuk kemudian berkumpul di Islamabad guna menekan pemerintah untuk melangsungkan pemilu awal.

Pendukung partai politik Pakistan Tehreek-e-Insaf (PTI) berkumpul, setelah Komisi Pemilihan Umum Pakistan mendiskualifikasi mantan Perdana Menteri Imran Khan atas tuduhan menjual hadiah negara secara tidak sah, selama protes di Karachi. (Foto: Reuters)

“Demonstrasi ini akan menunjukkan di mana orang-orang Pakistan berada. Saya merasa ini akan menjadi salah satu gerakan protes terbesar dalam sejarah Pakistan,” ujar pemimpin partai oposisi Pakistan Tehreek-e-Insaf, yang berusia 70 tahun itu. “Demonstrasi ini akan berlangsung damai dan sesuai hak konstitusional kami,” tambahnya.

Partai pimpinan Khan itu menjalankan beberapa pemerintahan regional, termasuk propinsi Punjab yang padat penduduk dan propinsi di barat laut Khyber Pakhtunkhwa.

Bintang kriket terkenal yang kemudian terjun ke politik itu menuduh pemerintahan Perdana Menteri Shehbaz Sharif melancarkan tindakan keras terhadap perbedaan pendapat politik dan kebebasan media sejak menjabat April lalu. Khan mengatakan hal itu memicu “gabungan depresi dan kebencian” di Pakistan.

Ada dua cara untuk mengubah hal itu, “melakukan revolusi lunak melalui kotak suara, atau sebaliknya yang menyebabkan kehancuran dalam masyarakat,” ujarnya. “Tetapi saya percaya kita sekarang berada di ambang, entah akan berubah secara damai atau justru terjadi kekacauan.”

Imran Khan dilengserkan dari kekuasaannya April lalu melalui mosi tidak percaya parlemen. Pemimpin oposisi ketika itu, Shehbaz Sharif, menggantikannya sebagai perdana menteri dari koalisi pengusaha baru yang terdiri dari puluhan partai politik.

Pemimpin Pakistan yang digulingkan itu berulangkali mengatakan tanpa bukti bahwa langkah menjatuhkannya dari kekuasaan diatur oleh Amerika yang berkoalisi dengan Shehbaz Sharif dan militer Pakistan yang kuat. Pemerintah Pakistan dan Amerika sama-sama telah menolak tudingan itu. [em/jm]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.