Perluasan Keanggotaan NATO Dalam Ketidakpastian Karena Penolakan Turki

Perluasan Keanggotaan NATO Dalam Ketidakpastian Karena Penolakan Turki

Aspirasi Finlandia dan Swedia untuk bergabung dengan NATO kini tidak menentu lagi nasibnya karena Turki telah mengulangi keberatannya terhadap permintaan keanggotaan kedua negara itu. Delegasi Finlandia mengunjungi Ankara Selasa (25/10) dalam upaya diplomatik terbaru untuk meredakan kekhawatiran Turki. Seperti dilaporkan Dorian Jones dari Istanbul, pemilihan umum di Turki merupakan faktor yang rumit.

Para diplomat Finlandia mengadakan pembicaraan satu hari di Ankara dengan para diplomat Turki, menurut laporan media lokal. Pertemuan itu menandai upaya diplomatik terbaru oleh Helsinki untuk membujuk Ankara agar menyetujui keinginannya untuk bergabung dengan NATO. Setiap usaha untuk memperluas aliansi Atlantik itu (menerima anggota baru) harus disetujui oleh semua anggotanya.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah menyuarakan keberatannya atas permohonan Finlandia dan Swedia untuk bergabung dengan NATO. Dia menuduh negara-negara tersebut memberikan perlindungan kepada kelompok-kelompok Kurdi yang oleh Ankara dianggap sebagai teroris. Berbicara kepada parlemen awal bulan ini, Erdogan mengatakan dia akan memantau dengan cermat komitmen Finlandia dan Swedia untuk memperhatikan keprihatinan Turki tersebut.

Erdogan mengatakan Turki tidak akan memberikan konsesi sebagai negara yang telah memerangi terorisme selama 40 tahun.

ARSIP – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam konferensi pers setelah KTT NATO, di Brussels, 24 Maret 2022.

FILE – Turkish President Recep Tayyip Erdogan speaks during a news conference following a NATO summit, in Brussels, March 24, 2022.

Sebelumnya pada bulan Oktober, pemimpin Turki itu menuduh Stockholm mengingkari komitmennya kepada Ankara, dengan mengatakan musuh-musuh Turki terus beroperasi secara bebas di Swedia. Namun, Erdogan mengatakan bahwa dia siap untuk bertemu dengan perdana menteri Swedia yang baru terpilih, Ulf Kristersson, untuk membahas tuntutan Turki.

Huseyin Bagci, kepala Institut Kebijakan Luar Negeri di Ankara, mengatakan Erdogan melihat ekspansi NATO sebagai peluang. “Tayyip Erdogan berusaha meningkatkan pengaruh proses tawar-menawar Turki melalui isu ini. Mungkin pada akhirnya, dia akan mengatakan ya, tetapi dia harus menunjukkan sikap sekarang. Langkah itu telah diperhitungkan, tetapi apakah itu salah perhitungan, kita lihat saja nanti,” komentarnya.

Berbagai laporan berita mengatakan Swedia telah membuat banyak konsesi keamanan. Ankara menuntut ekstradisi puluhan orang, termasuk warga negara Swedia yang dicari karena pelanggaran terkait aksi terorisme.

Analis Ilhan Uzgel dari portal berita Duvar mengatakan konsesi dari Washington adalah tujuan utama Erdogan. “Dia (Erdogan) berusaha menggunakan permohonan keanggotaan Finlandia dan Swedia untuk mendapatkan sesuatu dari Barat. Itu bisa berupa pertemuan dengan Presiden AS Joe Biden; bisa juga berupa pembelian jet tempur F-16 dari Amerika Serikat, atau dukungan eksternal selama pemilu. Sesuatu yang akan membantu Erdogan mendapatkan posisi yang lebih baik sebelum pemilihan,” ujarnya.

Erdogan tertinggal menurut sebagian besar jajak pendapat menjelang pemilihan yang harus diadakan pada Juni 2023.

Analis Ilhan Uzgel mengatakan Erdogan akan enggan meninggalkan posisi tawar-menawar di NATO sebelum pemilihan Juni mendatang. “Dugaan saya, dia akan menggunakannya sampai pemilu. Ini adalah pengaruh yang dia butuhkan saat ini,” jelasnya.

Para analis mengatakan Erdogan juga akan menyadari bahwa menunjukkan sikap tegas untuk NATO, dan khususnya, Amerika Serikat, akan memberikan kesan yang baik di antara basis agama dan nasionalisnya. Dan, itu berarti bahwa Finlandia dan Swedia bisa menunggu lama sampai bisa bergabung dengan aliansi itu. [lt/jm]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.