Tantangan KTT G20 Indonesia: Kolaborasi dan Solidaritas Global

Tantangan KTT G20 Indonesia: Kolaborasi dan Solidaritas Global

Kamis, 27 Oktober 2022 – 07:34 WIB

VIVA  – Kolaborasi dan solidaritas global menjadi tantangan berat dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Group of 20 (G20) Indonesia 2022 yang akan digelar di kawasan Nusa Dua, Kabupaten Badung, Provinsi Bali, Indonesia, pada 15-16 November 2022 mendatang.

Permasalahan ini menjadi perhatian serius bagi para delegasi peserta KTT Civil 20 (C20) Indonesia 2022 yang telah berlangsung pada 5-7 Oktober 2022 di Nusa Dua, Bali. Kolaborasi dan solidaritas global ini sangat sulit terlaksana di tengah berlangsungnya perang berlarut-larut serta konflik fisik dan psikis antara Federasi Rusia versus Republik Ukraina, termasuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di wilayah Ukraina.

Situasi ini tentu dapat mengancam terwujudnya misi pemerintah Republik Indonesia (RI) sebagai Ketua Presidensi KTT G20 2022, yakni ‘Recover Together, Recover Stronger’ atau ‘Pulih Bersama, Bangkit Perkasa’. Apalagi umat manusia belum pulih benar dari pandemi Coronavirus Desease 2019 (COVID-19) yang melanda dunia selama tiga tahun terakhir.

Dalam poin kempat Komunike KTT C20 Indonesia 2022, tertulis: “We would like to remind all of us the Recover Together, Recover Stronger could only be achieved if G20 collaborates, not only with G20 member countries, but also with other countries that have the same common goals, are committed to a concerted effort to recover from the pandemic, leaving no one behind, with input and support from civil society organizations.” Artinya, “Kami ingin mengingatkan kita semua bahwa ‘Pulih Bersama, Bangkit Perkasa’ hanya dapat dicapai jika G20 berkolaborasi, tidak hanya dengan negara-negara anggota G20, tetapi juga dengan negara-negara lain yang memiliki tujuan bersama yang sama, berkomitmen terhadap upaya bersama untuk pulih dari pandemi, tanpa meninggalkan siapa pun, dengan masukan dan dukungan dari organisasi masyarakat sipil”.

Membaca poin keempat dalam Komunike KTT C20 Indonesia 2022 ini, penulis teringat dengan konsep ‘Gotong Royong’. Konsep ini sudah sangat dikenal masyarakat Indonesia, bahkan telah lama menjadi ciri khas kepribadian bangsa Indonesia. Konsep gotong royong juga diwariskan dan diajarkan secara turun-temurun oleh nenek moyang penduduk nusantara.

Dalam arti luas, konsep gotong royong dapat diejawantahkan menjadi praktik kolaborasi, kerja sama, dan solidaritas global, termasuk di lingkup negara-negara G20. Itulah sebab mengapa Indonesia mengusung tema ‘Pulih Bersama, Bangkit Perkasa,’ bukan konsep-konsep yang cenderung mempromosikan kelebihan bangsa sendiri seperti ‘Indonesia Macan Asia,’ ‘Zamrud Khatulistiwa’ atau ‘Garuda Asia’.

Selain itu, prinsip ‘no one left behind’ atau ‘tidak meninggalkan siapa pun’ juga menjadi perhatian utama para delegasi peserta KTT Civil 20 Summit Indonesia 2022. Dalam arti luas, prinsip ini dapat dipahami sebagai saran dan masukan kepada para pemimpin negara G20 agar mengajak semua pihak untuk berkolaborasi, bekerja sama dan memiliki solidaritas yang tinggi dalam mewujudkan misi ‘Pulih bersama, Bangkit Perkasa’.

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.

Artikel ini bersumber dari www.viva.co.id.